Rabu, 15 November 2017

Musik Dalam Pencak Silat

Tags

Contoh Relief di Candi Borobudur
Jika kita berkunjung ke Candi Borobudur yang didirikan oleh dinasti Sailendra antara tahun 750 dan 850 Masehi, terdapat paparan relief panjang yang salah satu bagian menggambarkan beberapa orang sedang "menari" dengan memegang berbagai jenis senjata seperti panah, gada, tombak, pedang, dan tameng dengan dilatarbelakangi sekelompok orang yang memainkan alat musik semacam gamelan Jawa. Mungkinkah ini merupakan seni beladiri pencak silat yang sudah diiringi musik? Memang walaupun makna relief ini belum terungkap dengan jelas, dan kita belum bisa menjawab pertanyaan ini dengan pasti, gambaran tersebut mencerminkan lebih dari seribu kata. 

Pencak Silat Seni
Pencak silat pun memiliki segi estetis, dimana pencak silat seni adalah 'karya yang mewujudkan bakat atau kebolehan menciptakan sesuatu yang indah'(Kamus Dewan 1986). Dalam perkembangan pencak silat, konon aspek seni merupakan lanjutan rangkaian pertumbuhan aspek bela diri yang pertama muncul untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mempertahankan diri. Saat keadaan berubah menjadi aman dan desakan untuk mempergunakan pencak silat sebagai alat pembela diri semakin berkurang, para tokoh pendekar menyadari bahwa pencak silat dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lain, yaitu kebutuhan estetis, sakral, maupun hiburan.

Bila pencak silat bela diri dan olah raga mengutamakan perkembangan fisik, pencak silat seni adalah perwujudan pencak silat yang berupa tatanan gerak etis dan estetis berdasarkan kaidah pencak silat yang mengandung nilai budi pekerti luhur, dan bersumber pada khazanah budaya bangsa Indonesia (PB IPSI 1995). Selain menyajikan gerakan-gerakan mempertahankan diri yang didasari atas dinamika, momentum, kecepatan, gaya berat (gravity), kekuatan, dan efisiensi, setiap gerakan permaianan seni juga mengandung kelembutan, kesopanan dan keindahan. Dengan demikian, pencak silat seni menjadi sumber kenikmatan dan sasaran simbolis dari hasrat mengendalikan lingkungan melalui gerakan-gerakan yang berirama. 

Perbedaan antara bentuk dan inti pencak silat seni dan pencak silat beladiri terkait erat dengan tujuan dan fungsi yang spesifik dari kedua aspek tersebut:

"Kalau sikap dan gerak bela diri dilakukan untuk melindungi diri ..., maka dalam(ibing)[tari] pencak, sikap dan gerak itu dilakukan untuk (kenikmatan penari/pesilat) yang bergerak mengikuti irama karawitan (musik) pencak, dan jangan lupa untuk kenikmatan penonton yang melihat dan menyaksikan pencak sebagai tari. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing pencak walaupun bersumber pada bela diri, mempunyai perbedaan-perbedaan. Pada umumnya, sikap dan gerakan dalam ibing penca/kembang lebih terbuka, lebih distilasi, dan dilakukan dalam irama yang metrikal. (Saleh, M. dalam Riwayat Himpunan Pencak Silat Panglipur, 1989) 

"Sebagai alat bela diri pencak silat khusus memusatkan segala gerakan dengan panca indranya kepada lawan yang dihadapinya; tenaga dan pikirannya diarahkan kepada soal mengalahkan lawan dalam waktu yang singkat, tenaga yang tidak berlebihan, dan keluar tanpa cedera... Maka dalam bela diri ... segala tindakan harus hati-hati, jangan ceroboh, jangan menganggap enteng. Di dalam seni tari lain lagi keadaannya. Tidak ada resiko apa-apa selain dikatakan orang tidak/kurang bisa menarikan pencak silatnya. Hanya untuk menjaga nama aliran dan perguruaannya, penari pencak silat harus menyesuaikan apa yang dipelajari dengan tabuhan yang mengiringinya. (Suhari Sapari dalam Tari Pencak Silat Jawa Barat. Makalah dalam rangka Festival Tari 1978)

Dari dua kutipan di atas ini menonjol bahwa pencak silat seni lumrah dibandingkan atau malah disamakan dengan tari. Bahkan seorang pesilat sampai disebut sebagai 'penari'. Penggunaan istilah-istilah ini menunjukkan bahwa dalam praktek pencak silat seni dan tari pencak, atau tari yang bermotif pencak silat, tidak dapat dibedakan dengan mudah. Memang, kedua bentuk kesenian rakyat ini mempunyai banyak nilai-nilai kesamaan.

Tidak jelas pula apakah pencak silat seni berasal dari tari, atau tari berasal dari pencak silat seni. Selain pertunjukan pencak silat yang dipadukan serta diwarnai oleh unsur-unsur seni lainnya, banyak pula pertunjukan seni tradisional yang menempatkan pencak silat dalam kedudukan utama. Sebut saja diantaranya Kuntulan, Badui dan Angguk di daerah Jawa Tengah; Kenong Telok di Madura; Ketuk Tilu, Cikeruhan dan Jaipongan di daerah Jawa Barat; dan Randai, Bakaba, tari Padang dan tari Gelombang di Sumatera Barat. Bahkan sebagian masyarakat Minang berpendapat bahwa pencak silat merupakan dasar tarian Minangkabau.



Pencak Silat Seni di Jawa Barat

Abah Aleh

Seperti dengan gaya pencak silat di daerah-daerah lain, sampai saat ini belum ada yang bisa menjelaskan mengapa, kapan dan dimana diciptakan pencak silat di Jawa Barat. Yang diketahui hanya nama aslinya saja, yaitu 'penca' atau kalau di daerah Cianjur disebut 'maempo' yang berarti 'main pohok'. Pada naskah di masa lampau, kita dapat menemukan tanda-tanda keberadaan pencak silat bela diri pada abad XIII. Sedangkan informasi yang tersedia tentang pencak silat seni baru pada sekitar abad XVIII. Beberapa literatur pada masa itu pencak silat seni berkembang di Keraton Cirebon di pesisir pantai utara Jawa Barat seiring dengan kesenian daerah yang sangat disenangi oleh masyarakat seperti 'tari topeng' dan 'bedaya'.

Seni tari Cirebonan dan pencak silat dikembangkan di kediaman Regent dan disebarluaskan di kalangan bangsawan di bumi Parahyangan. Khususnya di Cianjur dalam periode pemerintahan Regent R.A. Kusumaningrat (lebih dikenal dengan Dalem Pancaniti, 1834-1863) seni suara tembang Cianjuran, mode pakaian dan pencak silat seni berkembang sangat pesat. Maempo, yang semula merupakan kumpulan rangkaian gerak untuk membela diri, kemudian disusun dengan menggunakan intonasi dan pola lantai sampai berkembang menjadi sebuah seni bela diri, semacam pertunjukan, yang diberi nama 'penca ibing'



Daerah yang paling menonjol dalam perkembangan seni Sunda ini adalah Kabupaten Cianjur, seperti dapat disimpulkan dari banyaknya aliran (ameng) pencak silat seni khas Cianjur, antara lain: ameng Cikalong yang didirikan oleh Ajengan Ibrahim (1816-1906), ameng Sahbandar yang didirikan oleh Mamak Kosim (1766-1880) dan kemudian berkembang menjadi ameng Sulewah, dan ameng Cikaret yang didirikan oleh salah satu murid Ajengan Ibrahim yaitu Ajengan Sanusi. Banyak tokoh pesilat Cianjur yang merantau dan mengajarkan kemahirannya kepada penduduk setempat serta mendirikan aliran-aliran baru di bumi Pasundan dan hingga luar Jawa. Kebanyakan aliran tersebut dikenalkan dengan nama julukan daerah tinggalnya, seperti ameng Cimande yang didirikan di Cimande (Bogor) oleh Bah Kaher pada tahun 1776.

Dengan memadukan gerakan-gerakan lama dan menciptakan gerakan-gerakan baru yang disesuaikan dengan irama musik daerah, timbullah suatu keharmonisan dalam gerak langkah. Melalui proses akulturasi ini, dimana materi dan teknik dari berbagai aliran dikumpulkan dan dicampur, permainan pencak silat seni Jawa Barat tumbuh dan berkembang terus-menerus, seperti dapat dilihat dari riwayat hidup pendekar Abah Aleh dan perkumpulannya yang bernama Panglipur.

"Abah Aleh berasal dari Banten dan merantau ke Garut sebelum memilih menetap di Gang Durman, di belakang Pasar Baru, Bandung. Pada tahun 1909 beliau mendirikan perkumpulan pencak silat seni dengan menggabungkan berbagai macam aliran dan jurus pencak silat yang dipelajari dari beberapa gurunya. Lebih khusus jurus-jurus yang diadopsikan dan dikombinasikan oleh Abah Aleh adalah sebagai berikut: jurus jalak pengkor, gerak loncatan dan permainan senjata dari aliran Cimande Kampung Baru dengan Guru Raden Agus; jurus tepak dua, Cimande, Si Pecut; pecah gunting, jalan limbuhan dari guru Abah Maryani, jago dari Bandung; jurus jalan Cikalong (5 rangkaian) dari guru Gan Uu; gerak jalan muka (5 rangkaian) dari guru Raden Enggah Achmad; ulin Sahbandar (yang terdiri dari narik najong, giles, siku, peret, besot, dan kalima), jurus rangkaian Si Pitung, dan 5 rangkaian alip bandul dari guru Raden Kosasih; permainan Bojongherang, perpaduan Cimande, Cikalong dan Sahbandar, dari Gan Enceng dan RadenHUsen Nataningrat dan Uwa dari kampung Satuduit; dan beberapa jurus pencak silat lainnya dari Gan Tatang."

Dalam jurus yang dibakukan beliau memisahkan antara 'kembang' dan 'isi'. 'Kembang' atau pencak silat seni dapat ditampilkan sebagai seni pertunjukan, dimana dalam pagelarannya selalu diiringi musik gendang pencak. Sedangkan 'isi' atau pencak silat bela diri harus dilatih secara rahasia sebagai pembekalan dalam melindungi diri. Perkumpulan atau perguron dalam bahasa Sunda, pencak silat seni yang beliau pimpin diberikan nama 'Panglipur' yang artinya adalah 'penghibur'. Nama Panglipur diberikan oleh seorang Bupati Bandung yang bernama Dalem Bintang. Konon, ketika Bupati Dalem Bintang menderita sakit keras, beliau ingin sekali menonton peragaan seni pencak dan tembang Cianjuran. Untuk itu diundanglah Abah Aleh dengan rombongannya untuk memperagakan seni pencak dan Bapak Hamim dengan tembang Cianjurannya. Abah Aleh menampilkan jurus-jurus dengan gerakan estetis dan kompak yang diiringi oleh musik gendang pencak, sedangkan Bapak Hamim mendendangkan tembang Cianjuran yang sangat lemah lembut dengan iringan kecapi dan suling yang sangat menusuk hati.

Setelah menonton penampilan kedua tokoh pendekar, Bupati Bandung yang terhibur hati dapat sembuh dari sakitnya. Atas rasa hormat dan terima kasih, beliau memberikan nama kepada kedua kelompok kesenian itu. Kelompok Abah Aleh diberi nama 'Panglipur Galih' atau 'Penghibur Hati' sedangkan kelompok seni Cianjuran diberi nama 'Panglipur' atau 'Penghibur'. Kedua tokoh kemudian berembuk dan memutuskan untuk bertukar nama agar lebih sesuai dengan garapan seninya.

Perkumpulan Panglipur banyak menghasilkan pendekar muda maupun  perguron baru. Setelah menyelesaikan pelajaran satu sama lain, murid-murid pulang ke daerah masing-masing dan membuka perguron baru. Atas dasar rasa hormat kepada guru dan cinta kepada perguron induknya, kebanyakan perkumpulan baru menggunakan nama perguron induk dengan menggabungkannya dengan nama baru seperti dalam: Rayi Panglipur, Panglipur Muda, Mekar Panglipur, Sinar Panglipur, Panglipur Jembar Kencana, Simpay Panglipur, Panglipur Pamager Sari, dan Panglipur Siliwangi.

Untuk mempersatukan perguron-perguron Panglipur yang dudah tersebar kemana-mana, dan secara struktural tidak memiliki hubungan perguruan, para guru besar mengambil inisiatif untuk mendirikan sebuah Himpunan Pencak Silat Panglipur. Begitu banyak jumlah perguron bahwa Panglipur menjadi himpunan yang terbesar di Jawa Barat. 

Begitu pula perguron-perguron pencak seni lainnya, melalui proses akulturasi, tumbuh dan berkembang di seluruh desa dan kota di Jawa Barat. Selain dari Panglipur, perkumpulan-perkumpulan seperti Pager Kencana (berpusat di Sukajadi), Mande Muda (Ancol), Sikep Wargi (Cimahi), Gagak Lumayung (Garut, Tasik, dan Nagrek), Domas (Garut), dan Gadjah Putih (Lembang) mempunyai perbendaharaan teknik dari rangkuman bermacam-macam aliran pencak silat yang sudah ada di Jawa Barat.

Oleh karena bersumber dari warisan kebudayaan yang sama, tidak mengherankan bahwa pencak silat seni Jawa Barat memiliki ciri-ciri khas yang dapat teridentifikasi dengan mudah, dimana gerakan-gerakan lembut dapat menjadi gerakan-gerakan keras seiring dengan pakem musik yang sudah baku sehingga timbul intonasi dan keharmonisan antara gerak dan irama. Dalam pertunjukan, satu dua kata (Ciat... atau Hiaa... ) diteriakkan oleh pesilat yang membawakan gerakan dengan wajah yang berekspresi, atau kadang-kadang oleh nayaga (pemain musik). Semua ini dapat menimbulkan rasa kesenangan tidak saja kepada penonton, tetapi juga kepada pesilat dan pemain musik itu sendiri.


Sebagai tradisi yang berurat-berakar, kesenian daerah ini sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat. Begitu eratnya hubungan batin dengan pencak kembang, sehingga mereka 'tidak menghubungkan kata pencak dengan bela diri, akan tetapi dengan tari pencak'(Saleh 1989). Bahkan, untuk kalangan tertentu seperti pendekar atau ahli maempo, pencak silat seni dapat menjadi sumber kekuatan atau sense of power seperti terlihat dari peristiwa di bawah ini: 


Desa Cikaret, Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, pada tanggal 7 Februari 1994: Acara Peringatan Ulang Tahun Keluarga Besar Panglipur yang ke-85 diselenggarakan di kediaman pendekar Endang Permana. Beliau adalah pendekar Panglipur dan keturunan Ajengan Sanusi, pendiri pencak silat aliran Cikaret. Pesta dihadiri oleh para anggota perhimpunan Panglipur dari seluruh Jawa Barat, yang sudah berdatangan satu hari sebelumnya. Juga banyak penduduk desa yang berkumpul bahkan berdatangan dari desa yang lain untuk menyaksikan pertunjukan maempok. Dari pagi hari sudah dimainkan musik gendang pencak dan disajikan berbagai demonstrasi permainan pencak silat seni, yang menampilkan ibing tunggal tangan kosong, bersenjata, golok tunggal, golok kembar, kipas, dan toya.

Musik gendang pencak sampai ditabuh dengan nada 'tepak dungdung', yaitu irama musik cepat yang biasanya dalam ibing pencak mengiringi teknik kombinasi serangan dan pembelaan yang dilakukan secara beruntun. Waktu mendengar irama ini naluri pencak silat yang sudah menjadi darah daging Aki (kakek) Dedi bangkit dan mendorongnya memperagakan keahlian bermain maempo. Perlu dijelaskan bahwa Aki Dedi sudah berumur 81 tahun. Badan buruh tani ini sudah renta, gigi ompong, pendengaran kurang terang, rambut memutih dan berjalan perlahan dengan membongkok.

Walaupun keadaan fisik sudah lemah, beliau berdiri dengan tegar dan memberikan hormat pencak silat dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan dada beserta menganggukkan kepala kepada para pendekar tua lainnya. Para pendekar tua dan tamu kehormatan membalas hormat dan mengijinkan Aki Dedi untuk menaiki panggung. Aki Dedi berbalik melangkahkan kakinya menuju panggung disertakan dengan tepukan tangan dari para pendekar dan tamu kehormatan yang diikuti oleh seluruh penonton. Dukungan penonton dan semangat irama musik membuat setiap langkahnya merubah kembali muda. Di atas panggung beliau sekali lagi memberi hormat kepada para penonton dan pendekar. Setelah menyingsingkan lengan bajunya beliau dengan dua jari tangan kanannya menunjukkan kepada pemain gendang agar mereka memainkan irama 'tepak dua'. Aki Dedi dengan serentak bergerak memainkan pencak silat mengikuti irama musik dengan pukulan dan tangkisan yang bertenaga. Beliau memainkan kombinasi jurus permainan Kare dan Sahbandar yang diulang menghadap ke arah empat penjuru angin. Hanya nafas yang sedikit tersengal-sengal.

Tukang gendang menyadari keadaan Aki Dedi dan dengan spontan mengganti irama jalan 'rincid' agar supaya Aki Dedi dapat kesempatan untuk bernafas dengan melakukan gerakan berputar dengan langkah-langkah panjang. Di tengah putaran Aki Dedi merasa lelah dan duduk di atas panggung sambil melambai-lambaikan tangannya. Gemuruh tepuk tangan dari penonton. Beberapa diantaranya berteriak: "Terus ... Terus ...". Bapak Dadang, salah satu pendekar aliran Cikalong naik ke panggung dan memberikan segelas kopi kepada Aki Dedi. Dalam keadaan duduk beristirahat Aki Dedi tetap memperagakan kebolehannya dengan melipatkan dan menggantungkan kaki kanannya ke leher bagian belakang dan berjalan mengesot sambil minum kopi. Irama musik tetap berbunyi dengan menyanyikan lagu 'Bunga Kawung'. Lagu ini menimbulkan semangat Aki Dedi bangkit kembali, sampai beliau berdiri dan mulai menari berloncat-loncat dengan mengibas-kibaskan kedua tangannya sesuai iringan musik, lalu berhenti dengan sikap pasang kuda-kuda, dan melanjutkan dengan beberapa gerakan dari jurus Cikalong. Tiba-tiba bapak Hansip naik ke panggung dan memberikan sebatang rokok yang sudah dibakar kepada Aki Dedi. 

Aki Dedi berputar-putar dan bermain penca dengan hati yang gembira, namun nafas sudah tersengal-sengal. Nayaga menurunkan volume musik sampai pada akhirnya berhenti. Langsung Aki Dedi duduk terkulai di atas panggung. Tenaga yang dimilikinya habis dan beliau tidak bisa berdiri lagi. Terpaksa anak-anak muda membopong turun ke bawah. Pertunjukan Aki Dedi yang berlangsung kurang lebih sepuluh menit ini terasa sebagai suatu keajaiban dimana pencak silat menjadi kekuatan hidup untuk Aki Dedi.

Selain pada acara-acara peringatan yang diadakan oleh perkumpulan-perkumpulan, pagelaran pencak silat seni dipertunjukkan pula pada pesta masyarakat umum. Dalam upacara-upacara resmi yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah, pencak silat seni selalu dipentaskan sebagai wujud kebudayaan khas Jawa Barat. Begitu pula dalam setiap keramaian yang agak besar seperti peresmian gedung dan pabrik baru, perkawinan, atau upacara-upacara adat lainnya, pencak silat seni selalu mengisi acara untuk menghibur penonton dan memeriahkan suasana. 

  

Sumber: 
  • O'ong Maryono dalam "Pencak Silat Merentang Waktu", tahun 2000 dan dari berbagai sumber lainnya
  • Gambar: panglipurproduction.blogspot.co.id

  


EmoticonEmoticon